Sahabat?

A Short Story by Darrien Rafael Wijaya - Written at March, 2023

Orang-orang bilang, "Ketika cowok dan cewek menjadi sebuah sahabat, pasti benih-benih suka akan tertabur."

Hm, aku? Tentu saja aku menentang hal tersebut. Buktinya, aku, Clara, dan Tomo sudah bersahabat selama 7 tahun, tapi kami tetap bersahabat tuh..

Gak ada rasa suka yang timbul di antara kami berdua.

Hari ini, hmm... ini tanggal berapa yak? Oh iya, ini tanggal 27 November, aku sedang bersama Tomo dan pacarku, Roy. Kami sudah terbiasa berkumpul bersama di rumahku ini.

Bermain, berbincang, atau menonton? Tentu saja kami telah lakukan semua. Oh, bahkan kami bertiga pernah mencuri sandal masjid depan rumah haha, sayangnya kami tertangkap, dan kemudian kami dihukum untuk membersihkan masjid bersama.

Di hari ini, kami bersama-sama bermain Playstation 5 baru milikku ini. Tentu saja mereka langsung terburu-buru berkunjung ke tempat kediamanku ini. Lelaki mana yang tidak mau main Playstation ini.

Bermain bersama mereka sangat menyenangkan, apapun bisa menjadi bahan untuk ketawa bersama. Aku benar-benar tidak akan melupakan momen-momen bersama mereka.

Oh ada satu lagi hal yang ngebuat momen itu tak bisa kulupakan. Di hari itu, tanggal... berapa ya tadi? Oh iya, tanggal 27 November. Ya, di hari itu, Roy, pacarku, melamarku untuk menjadi istrinya. Tentu aku terkejut, dan pastilah aku terima. Dia itu udah ganteng, baik, perhatian... Perfect banget lah pokoknya. Tomo pun memberikan selamat kepada mereka, tapi... aku ngerasa ekspresinya agak aneh... hmm... Ah, perasaan ku aja... dia mana mungkin cemburu, kita kan udah janji untuk menjadi sahabat selamanya.

Satu minggu setelahnya, kami mencari gaun yang pas untukku bersama pacark-, oops maksudku calon suamiku hehe. Kami berputar-putar keliling kotaku ini, mencari gaun yang paling cocok untukku dan jas yang paling keren untuk calon suamiku. Tapi pas di jalan, kok aku ngerasa mobil yang ada di belakang mobil kami selalu mengikuti arah kami ya? Kebetulan pasti sih... atau aku salah liat ya. Gak mungkin Tomo sih, dia kan lagi ada konser nyanyi di kota tetangga.

Tiga hari setelah itu, aku bertemu dengan Tomo setelah 5 hari dia pergi keluar kota, aku kangen banget sama dia. Aku dengan calon suamiku bersama-sama menjemput dia di bandara, dan kemudian kami pulang bersama. Oh, tentu saja sebelum kami pulang, kami mampir ke beberapa tempat dahulu. Hmm, kemana aja ya kemarin... kayaknya cuman ke Timezone, XXI, belanja ke Hypermart, terus kita makan di KFC, habis itu nongkrong di Starbucks. Ternyata banyak yak...

Hari ini kalo gak salah tanggal 2 Desember deh. Coba ku cek kalender dulu... Oh iya bener deh hehe. Hari ini aku bersama keluargaku mau pergi ke tempat nikahan ku nanti, untuk mencoba makanan-makanan yang kami pesan. Oh, sayangnya calon suamiku sedang di luar kota untuk mengurus sesuatu... Aku juga gatau pasti ngapain dia, tapi aku percaya dia tidak akan berbuat yang aneh-aneh.

Tentu saja hari ini aku mengajak sahabat terbaikku, Tomo! Dia kan suka banget tuh soal makanan, dia pasti bisa memberikan pendapat-pendapat bagus kalo masalah rasa. Keluargaku pergi mendahuluiku karena aku telat bangun. Akhirnya aku pergi bersama Tomo ke tempat itu. Tapi rasanya beda, mobil terasa sunyi... sepi... Aku menghidupkan musik pop yang kami biasa dengarkan, namun Tomo tiba-tiba mengecilkan suaranya, dan berkata "Pelan-pelan aja ya?"

Sesampainya kami di sana, kami langsung masuk ke tempat itu. Oh, tempat itu merupakan sebuah wedding hall yang direkomendasikan oleh pamanku. Di dalam tempat itu, kami langsung mulai mencicipi makanan-makanan di sana. Soalnya kami laper hehe. Satu per satu kami cicipi semua, makanan-makanan di sana terasa sangat enak! Tak lama setelahnya, aku menanyakan bagaimana rasanya pada Tomo, aku benar-benar ingin tau pendapatnya. Tapi tidak seperti biasanya, dia tidak mengatakan apapun, dia tidak berbicara apapun, tidak menanggapi apapun.

Aku sudah tidak bisa menahan lagi, aku harus tanya ke dia apa yang terjadi. "Weh Tomo, km kenapa sih? Kok diem terus... km mikirin apa?" Namun Tomo hanya menjawab "Gak... Gapapa." Mendengarnya aku menjadi kesal. "Tomo! Kita kan udah sahabatan sangat lama, masalah apapun kita selesaikan bersama. Ada masalah apa!?" ujarku sambil mengambil segelas air. "Km beneran pengen tau?" aku mengangguk. "Aku... sayang sama kamu," ujarnya perlahan.

Setelah mendengarnya, aku seketika tersedak oleh air yang ku minum. "Clara! Kamu kenapaa!?" Teriak ibuku kaget. "Enggak bu, airnya agak pahit," ujarku. Ibuku langsung memanggil manajer wedding hall tersebut dan minta untuk memastikan kualitas air mereka.

"Kamu kenapa?" tanya Tomo. "Enggak, kayaknya tadi aku salah denger. Tadi kamu bilang apa?" "Aku, suka sama kamu," ujar Tomo lagi. Aku teriak. "HAHH."

Aku langsung menarik Tomo keluar tempat itu. "Kamu itu bego atau gila sih?" aku mulai mengeluarkan air mata. "Kamu mikir gak sih? Apa yang barusan kamu lakukan." "Ya," jawab Tomo. "Terus kamu mau aku gimana? Pergi ke Roy dan bilang sahabatku suka sama aku? Gitu?" teriak Clara. Tomo hanya terdiam.

"Ini kalo sampe Roy tau, gimana?" tanya Clara. Aku seketika kaget ketika Tomo bilang "Roy udah tau." "Terus gimana? Kita kan udah janji mau jadi sahabat selamanya kan? Kamu pikir dengan kamu ngomong gini, aku bakal mutusin calon suamiku itu terus tiba-tiba bilang kalo aku juga sebenernya suka sama kamu? Mikir dong! Ini bukan sinetron yang ceritanya hanya dibuat-buat. Ini dunia nyata!" ujar Clara dengan emosi.

"Ya aku tau kok. Aku cuma mau kamu tau." "Cuma mau aku tau? Terus sekarang aku udah tau, kamu mau apa lagi?" Tomo terdiam. Clara pun terdiam.

Kira-kira 2 menit telah berlalu. "Ok sekarang gini, kamu mau gimana?" tanya Clara kesal. "Aku cuma mau kamu tau... Aku gak mau menyesal nantinya karena tidak berani mengatakan ini padamu. Jadi aku cuma mau kamu tau," ujar Tomo. "Sekarang, aku minta kamu pulang."

Dua hari kemudian, pernikahan kami pun dilaksanakan. "Dan mari kita sambut, kedua pasangan yang paling berbahagia pada malam hari ini. Roy dan Clara." Malam itu begitu meriah. Banyak tamu berdatangan. Lalu tiba lah waktunya untuk Tomo bernyanyi. "Selamat malam semuanya, di malam yang indah ini, saya akan mempersembahkan lagu ciptaan saya sendiri. Berjudul Hati Setengah Racun." Lagu itu merupakan lagu yang mengisahkan tentang cerita yang bertepuk sebelah tangan.

Roy memandangi Tomo sambil terdiam. Clara yang melihat itu mengatakan, "Roy, kalo kamu merasa gak nyaman sama kehadiran dia, biar aku minta dia untuk pergi." Namun Roy menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak perlu."

"Kamu tau? Tentang apa yang terjadi," tanya Clara. "Ya. Aku tau," jawab Roy. "Mau ku ceritakan apa yang kami bicarakan kemarin, apa jawabanku?" tanya Clara. "Tidak, tidak perlu." Clara memandangi Roy. "Kenapa? Kamu gak mau tau?" "Kamu gak perlu ceritakan. Kehadiranmu di malam hari ini telah menceritakan semuanya," jawab Roy dengan senyuman.

Orang-orang bilang, "Ketika cowok dan cewek menjadi sebuah sahabat, pasti benih-benih suka akan tertabur." Sekarang, aku setuju hal tersebut.