Sebuah Dunia Lain

A Short Story by Darrien Rafael Wijaya - Written at March, 2026

“Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri.

Jangan tertipu, dia selalu mendengarkan.

Kau tidak bisa mengelabuinya.

Dia mendengarkanku,

dia mengawasiku.

Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri.”

Kirana menatap layar laptopnya tanpa berkedip. Seolah-olah menempel di belakang matanya seperti bayangan yang tidak mau hilang.

Itu adalah file pertama yang berhasil dia pulihkan, JURNAL_01.jpg. Kualitas gambarnya buruk, seperti foto yang diambil dengan kamera ponsel generasi awal di ruangan yang hampir gelap.

Tulisan pada gambar tersebut tampak ditulis dengan tangan yang terburu-buru, miring dan sedikit menekan terlalu dalam pada kertas yang sudah menguning, kusut di beberapa sudut, persis seperti yang baru saja dia baca.

Kantor Kirana sunyi dan tertata rapi. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah dengungan rendah dari unit server di rak besi di sudut ruangan dan desisan kipas pendingin laptopnya yang bekerja terlalu keras. Di luar jendela lantai empat belas, lampu penerangan dari gedung seberang berkedip-kedip tidak sabar, memercikkan warna merah dan biru yang resah ke dinding-dinding kantornya yang steril.

Dia adalah seorang analis forensik digital. Hidupnya berkutat pada dunia logika dan bukti. Satu tambah satu pasti sama dengan dua. Data tidak punya alasan untuk berbohong.

Tapi hard drive di depannya terasa lain.

Drive itu tiba di mejanya pagi tadi, diserahkan dalam kantong barang bukti yang disegel rapat. Permukaannya kotor, dilapisi tanah dan lumpur kering yang mengelupas ketika disentuh. Laporan singkat yang menyertainya hanya beberapa lembar.

Kasus: 117-H (Hilang)

Subjek: Aruna Dharmawan (Laki-laki, 29)

Lokasi Terakhir: Tepi Hutan Sp[Redacted], Jawa Barat.

Barang Bukti: Satu (1) Hard Drive Eksternal (Rusak Parah).

Catatan: Subjek adalah penjelajah anomali dan urban legend yang cukup dikenal. Hilang 6 bulan lalu.

Tugas Kirana terdengar sederhana di atas kertas: pulihkan apa pun yang masih bisa diselamatkan. Petunjuk, catatan, rekaman, apa saja yang mungkin bisa memberi keluarga Aruna sedikit jawaban.

Empat jam terakhir dia habiskan untuk menembus enkripsi yang berlapis dan sektor-sektor disk yang rusak parah. Satu per satu, blok data yang tampak tak berguna mulai menyusun pola. File pertama yang muncul dan bisa dibuka adalah gambar catatan tadi.

"Itu mendengarkan," bisik Kirana, mengulang kalimat dari layar, seolah takut suaranya sendiri akan membuat sesuatu menoleh.

Dia mendengus pelan, mencoba menertawakan perasaan tidak nyaman yang merayap di dalam dada. Kalimat itu terdengar seperti properti murah dari film horor yang tayang tengah malam di televisi lokal.

Dengan gerakan cepat, dia menutup gambar itu. Di folder hasil pemulihan, ada beberapa file lain yang ikut muncul. Salah satunya sebuah file video. Statusnya rusak berat, tapi perangkat lunak pemulihannya menunjukkan bahwa file itu masih bisa diputar.

Kirana menyandarkan tubuhnya ke kursi, meraih cangkir kopi yang sudah dingin sejak entah kapan, lalu menyesapnya tanpa benar-benar merasakan rasa apa pun. Setelah menarik napas panjang, dia menekan tombol play pada file video pertama.

[REC] 04:11:23

[GPS] 6.8921° S, 107.6186° E

Layar berkedip pelan sebelum akhirnya menyala penuh. Rekaman itu ternyata berasal dari kamera yang dipasang pada bagian kepalanya, sudut pandangnya stabil dan tinggi. Goyangan kamera mengikuti langkah pemakainya yang terukur dan hati-hati. Audio-nya mengejutkan, jauh lebih jernih dibanding kualitas videonya.

"Oke, kembali lagi dengan aku Aruna di video penjelajahan kita." suara seorang pria terdengar. Tenang, dengan sedikit nada menghibur seolah dia terbiasa berbicara pada penonton. "Log audio, 14 April. Tiba di koordinat."

Cahaya di layar memperlihatkan Aruna berada di tengah hutan lebat. Pohon-pohon tinggi menjulang seperti tiang tanpa ujung, dahan dan daunnya menutup hampir semua cahaya matahari. Udara tampak lembap dan berat.

"Koordinat ini aku temukan di laptop tua hasil lelang," jelas Aruna.

"Tidak ada data lain selain sebuah file teks berisi koordinat.”

Di video, Aruna kini tiba di persimpangan jalan setapak hutan. Satu jalur tampak lebih jelas dan sering dilalui, mengarah ke kanan. Jalur yang lain, ke kiri, nyaris tertutup semak belukar dan akar pohon yang menjalar liar.

Aruna berbelok ke kiri.

Kamera berguncang saat dia menerobos semak berduri dan ranting-ranting kering yang memukul bahunya. Setelah sekitar lima menit berjalan, napasnya sedikit memburu, dia berhenti.

"Itu dia," katanya pelan.

Kamera mendongak perlahan. Tersembunyi di balik dinding sulur dan tanaman merambat, tampak sebuah celah gelap pada lereng bukit. Sebuah gua, mulutnya sempit dan hitam pekat.

Rekaman berlanjut di dalam gua. Cahaya dari senter kepala Aruna menembus kegelapan, membentuk lingkaran cahaya kecil di depan langkahnya.

Gua itu bukan sekadar lorong gelap. Dindingnya melengkung sempit, cukup luas untuk satu orang lewat, tetapi terlalu rapat untuk terasa aman. Tingginya pun hanya pas untuk satu setengah tinggi manusia. Permukaannya licin dan lembap, memantulkan cahaya senter seperti kulit basah. Di atas, stalaktit kecil menggantung seperti deretan gigi tumpul. Lantainya tidak rata, kadang naik dan kadang turun, membuat setiap langkah harus diambil dengan sangat hati-hati.

Udara di dalam terasa dingin dan berat, seperti ruangan yang sudah lama tertutup. Semakin jauh Aruna berjalan, semakin kuat rasa bahwa hutan di luar sudah sangat jauh di belakangnya.

"Menarik," ujar Aruna. "Gua ini tidak tercatat di peta mana pun yang kupunya."

Dia melangkah lebih dalam. Gua itu kering, lantainya berdebu, dan udara di dalamnya terasa diam dan berat, seolah sudah lama sekali tidak diganggu siapa pun. Setelah berjalan sekitar seratus meter, senternya menangkap sesuatu yang berbeda dari batu-batu di sekeliling.

"Tunggu. Apa itu?" suaranya terdengar lebih fokus.

Di sudut gua, di atas sebuah batu datar, tergeletak sebuah kotak logam kecil yang sudah berkarat parah. Bentuknya mengingatkan pada kotak amunisi tua dari era perang.

Kirana mencondongkan tubuhnya ke arah layar tanpa sadar.

Rekaman menunjukkan Aruna berjongkok di depan kotak. Dia membongkar tasnya, mengeluarkan alat, lalu memaksa membuka kotak yang sudah usang itu. Engselnya berderit panjang, bunyinya memekakkan telinga di dalam keheningan gua.

Di dalam kotak, hanya ada satu benda.

Sebuah jurnal bersampul kulit yang sudah lapuk, pinggirannya membengkak karena kelembapan, dan warnanya pudar menjadi cokelat kelabu.

Aruna mengangkat jurnal itu dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas kotak amunisi yang terbuka. Dia membuka sampulnya perlahan, seolah takut halaman di dalamnya akan hancur.

Halaman pertama kosong.

Halaman kedua juga kosong.

Di halaman ketiga, barulah ada tulisan.

Kirana menahan napas. Rekaman memperbesar halaman itu, fokus pada tulisan yang tampak bergoyang karena tangan Aruna sedikit gemetar.

Itu adalah halaman yang sama dengan JURNAL_01.jpg. Tulisan yang sama persis, hanya saja di sini masih dalam bentuk aslinya, bukan versi digital.

Aruna membacanya pelan, kata demi kata.

"Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri.

Jangan tertipu, dia selalu mendengarkan.

Kau tidak bisa mengelabuinya.

Dia mendengarkanku,

dia mengawasiku.

Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri. Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri."

Suara Aruna terdengar berubah, dari bingung menjadi geli. "Sembilan kali," katanya, setengah tertawa. "Peringatan 'jangan belok kiri' diulang total sembilan kali. Ini... obsesif tingkat dewa."

Di bagian bawah halaman, tepat di bawah kalimat terakhir, terdapat serangkaian huruf dan angka yang ditulis rapat, tanpa spasi,

PIWCIUSAIPIUNKSQGKPIWCIUSAIPIUNKSQGKPIWCIUSAIPIUNKSQGKPIWCIUSAIPIUNKSQGKPIWCIUSANZ.

Aruna menatap huruf-huruf itu lama, seolah sedang mengukur tingkat kesulitan sandinya hanya dari pola.

"Dan tentu saja, sebuah sandi," gumamnya, nada suaranya terdengar senang, bukan takut.

Dia tidak berusaha memecahkannya saat itu juga. Dia hanya menatap barisan angka itu dengan senyum tipis yang muncul di wajahnya, wajah yang hanya terlihat sebagian oleh kamera.

"Ini menarik," katanya akhirnya, seperti memberi janji pada penontonnya.

Dia menutup jurnal itu dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam ransel, lalu berdiri lagi.

Kamera berputar pelan, mengarah ke kegelapan gua yang lebih dalam.

"Aku akan teliti ini lebih lanjut," katanya pada penonton yang tidak terlihat. "Oke, terima kasih buat kalian yang sudah menonton. Kita lanjut di video selanjutnya. Semoga di episode berikutnya kita bisa mengungkap misteri-misteri ini, dan semoga kita ga mati..."

Rekaman tiba-tiba memudar menjadi hitam. File berakhir begitu saja.

Kirana bersandar ke kursinya. Rasa dingin merambat perlahan di sepanjang tulang punggung, meskipun pendingin ruangan di kantornya sudah lama dimatikan.

"Aruna Dharmawan."

Dia memeriksa daftar isi hard drive itu lagi. Ternyata masih ada beberapa file video lain. Sebagian besar rusak parah, tetapi perangkat lunak pemulihan berhasil menyelamatkan potongan dari beberapa di antaranya. Di layar, hanya dua file yang tampak paling utuh: Video_01, yang baru saja dia tonton, dan satu file lain bernama Video_02.

"Baik, Aruna," gumam Kirana. "Mari kita lihat apa yang kau temukan."

Dia menggeser kursor, lalu membuka Video_02.

Kualitas videonya hampir sama. Kualitas gambar yang terganggu, sudut pandang dari kamera yang dipasang dengan cara yang serupa. Semuanya membuat Kirana mengira ini adalah lanjutan langsung dari rekaman sebelumnya.

"Log audio," sebuah suara terdengar.

Kirana tersentak kecil. Suara itu mirip dengan suara Aruna, tapi ada perbedaan halus. Nada bicaranya lebih tegang dan pelan, seperti seseorang yang sudah jauh lebih paham seberapa berbahaya tempat yang sedang ia hadapi.

"Kamu lebih pendiam kali ini, Aruna. Kalau takut, mending pulang saja," katanya.

Rekaman memperlihatkan pria itu sudah berada jauh di dalam gua. Dia berjalan dengan ransel lengkap, peralatannya tampak lebih banyak dan lebih tersusun rapi, seolah ini bukan pertama kalinya dia masuk ke sini.

Dia melewati batu datar tempat kotak amunisi seharusnya berada.

Kirana menjeda video secara refleks. Ada sesuatu yang terasa ganjil.

Dia memundurkannya beberapa detik.

Kotak amunisi itu masih ada.

"Tunggu," bisik Kirana. Dia memutar ulang bagian itu, kali ini lebih pelan.

Pria itu berjalan melewati batu datar itu. Kamera hanya menyapu kotak sebentar.

Kirana menjeda lagi dan memperbesar gambar. Kotak itu masih terbuka.

Kosong.

"Hmm," gumam Kirana. "Ini 'video selanjutnya'. Aruna pasti sudah mengambil jurnalnya setelah rekaman pertama. Tentu saja kotaknya kosong sekarang."

Dia aplikasi pemutar video pertama dan kembali fokus sepenuhnya pada rekaman kedua.

Dalam video, pria itu tiba di persimpangan terowongan. Dia menyorotkan senternya ke arah kiri, lalu ke kanan, seolah menimbang-nimbang. Ada jeda singkat, seakan dia mendengar sesuatu yang tidak tertangkap oleh mikrofon.

Sebuah bisikan samar terdengar dan akhirnya membuatnya melangkah ke arah kiri.

Terowongan itu membawa pria itu ke sebuah ruangan besar. Kirana menahan napas.

Ruangan itu tidak gelap gulita seperti bagian gua lainnya. Tempat itu diterangi oleh cahaya hijau dan kuning yang lembut, yang tampaknya berasal dari sesuatu yang tumbuh dari lantai batu.

Pohon-pohon.

Mereka bukan pohon biasa. Batangnya kurus dan tinggi, kulitnya pucat seperti tulang yang diputihkan, dan daun-daunnya memancarkan cahaya lembut. Lingkungan hutan itu tampak mustahil, seperti pemandangan dari mimpi buruk makhluk yang salah membaca buku biologi.

Hutan itu membentang luas di dalam ruangan batu yang sangat besar. Dari sudut pandang kamera, pohon-pohon itu seolah tidak ada habisnya, mengisi seluruh ruang sampai ke kegelapan di kejauhan. Tanahnya dilapisi sesuatu seperti lumut tipis yang juga memancarkan cahaya lembut ketika diinjak. Tidak ada suara serangga, tidak ada angin, hanya cahaya lembut yang diam.

Di bagian tepi, cahaya dari daun-daun tidak lagi menjangkau dinding. Di sana, kegelapan menunggu tanpa bentuk, seperti batas ruangan yang sengaja disembunyikan.

"Luar biasa." kata pria itu, kagum dan takut dalam waktu yang sama.

Kemudian Aruna lanjut menelusuri tempat itu.

Saat itulah Kirana menyadari sesuatu yang mengganggu.

Gerakan pria itu tidak lagi wajar.

Dia tidak lagi berjalan dengan langkah yang konsisten. Polanya berubah. Dia berjalan sepuluh langkah, lalu berhenti total. Kepalanya miring sedikit. Setelah beberapa detik, dia berjalan lagi, kali ini hanya lima langkah, lalu berhenti lagi. Kemudian lagi. Dan lagi.

Kirana mengerutkan dahi. "Dia menghemat tenaga? Atau dia sedang mendengarkan sesuatu?"

Rekaman berlanjut. Pria itu tiba di sebuah tikungan tajam yang lain.

Lorong yang dia masuki panjang dan lurus. Di dinding batu yang lembap, terdapat serangkaian obor yang dipasang setiap dua puluh meter, menciptakan jalur cahaya yang lurus menjauh.

Lorong itu jauh lebih besar dari yang terlihat sekilas. Tingginya seperti ruang konser yang terbalik, dengan langit-langit batu yang menjulang begitu tinggi hingga cahaya obor tidak mampu mencapai puncaknya. Dinding-dindingnya lebar, terasa seperti tembok bangunan kuno yang dibuat untuk makhluk yang ukurannya bukan manusia. Batu-batunya tersusun rapi dalam pola besar, seolah dikerjakan oleh tangan yang sangat kuat dan sangat teliti.

Obor-obor dipasang pada jarak yang teratur, namun karena luasnya lorong itu, cahaya setiap obor hanya menyinari sebagian kecil dari dinding di dekatnya. Api mereka bergetar pelan, menciptakan bayangan besar yang bergerak seperti sesuatu yang sedang bernapas di dalam gelap.

Lantai batu yang lebar itu licin dan keras, terlihat seperti jalur yang sudah lama dilalui sesuatu, tetapi tidak ada jejak apa pun di sana selain langkah pria di video itu. Ruang di sekelilingnya terlalu besar dan terlalu kosong, membuat setiap suaranya memantul kembali dengan echo yang dalam dan lambat.

Dia berjalan menyusuri lorong itu. Beberapa detik terasa sangat lama.

Tiba-tiba, dia berhenti.

"Kalian dengar itu?" bisiknya ke kamera.

Kirana tidak mendengar apa pun selain tetesan air yang jatuh ritmis dari atap gua.

Pria itu berbalik perlahan. Di ujung yang jauh, di belakangnya, obor pertama di lorong itu padam dengan suara kecil seperti petikan.

Snap.

"Tidak mungkin," gumamnya. "Itu obor seharusnya akan menyala selama delapan jam."

Dia maju selangkah.

Snap. Obor kedua padam.

Snap. Obor ketiga.

Cahaya di lorong runtuh satu per satu, seperti barisan domino yang dipadamkan oleh sesuatu yang berjalan mendekat dalam kegelapan. Sesuatu yang bergerak di luar jangkauan senternya, mematikan obor satu per satu, menjerumuskannya ke arah gelap.

"Lari," bisik Kirana, meski tahu pria itu tidak bisa mendengarnya.

Pria itu kemudian berlari melewati lorong itu. Kamera berguncang liar, merekam napasnya yang memburu, pantulan cahaya yang kacau di dinding batu. Dia berlari melewati lorong bercahaya, dan akhirnya masuk ke ruangan lain yang serupa dengan pohon-pohon bercahaya. Dia bersandar di dinding, menahan napas, berusaha menenangkan diri.

Rekaman itu hening selama hampir satu menit. Hanya suara napasnya yang berat dan gema samar dari langkah-langkah yang sudah berhenti.

Jantung Kirana berdebar kencang tanpa ritme yang jelas. Dia meraih mouse, memundurkan rekaman ke bagian sebelum obor pertama padam, tepat ketika pria itu berjalan dengan pola aneh tadi.

Dia menaikkan volume hingga hampir maksimum, lalu mengaktifkan perangkat lunak isolasi audio untuk memisahkan suara latar.

Dia memutar ulang.

Dia mendengar langkah kaki pria itu.

Tap... tap... tap...

Kemudian dia mendengar sesuatu yang lain.

Sangat pelan.

Nyaris tidak ada.

...tap... tap... tap...

Langkah kaki kedua. Sedikit tidak sinkron. Selalu terbit sepersekian detik setelah langkah pertama.

"Ya Tuhan," bisik Kirana. "Dia tidak berhenti karena lelah. Dia berhenti untuk mendengarkan."

Pada video itu, pria itu mematikan senter kepalanya. Cahaya utama padam, menyisakan hanya semburat cahaya redup dari daun-daun pohon aneh yang bercahaya sendiri.

"Aku tahu kau di sana," bisiknya ke dalam kegelapan di depannya. "Aku mendengarmu."

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang terlalu padat.

Pria itu kembali bergerak, kali ini lebih pelan dan hati-hati. Tubuhnya jelas tegang, tetapi di balik ketakutan itu, Kirana bisa menangkap sesuatu yang lain. Ada semacam kegembiraan dingin, adrenalin seorang ilmuwan yang merasa berada di depan sesuatu yang tidak pernah tercatat di buku mana pun.

Dia berjalan di lorong gua itu, mengambil dua belokan kiri lagi di persimpangan yang membingungkan. Setiap kali dia memilih "kiri", Kirana merasa mual, teringat pada peringatan di jurnal.

Di persimpangan, jangan belok kiri.

Pria ini bukan hanya mengabaikan peringatan itu. Dia seperti menggunakannya sebagai panduan.

Akhirnya, dia tiba di sebuah ruangan besar yang pria itu sebut "Oasis".

Sebuah danau bawah tanah yang tenang terbentang di hadapannya, permukaannya memantulkan cahaya redup dari dinding gua. Di sekeliling danau, lumpur basah yang tebal membentuk tepian yang licin.

"Oke," kata pria itu ke kamera. Nadanya kembali tenang, dingin, dan terukur. "Kau mengikutiku. Kau bisa memadamkan obor. Kau cukup pintar untuk meniru langkah kakiku. Tapi apakah kau memiliki bentuk fisik?"

Dia mengarahkan kamera sebentar ke ranselnya.

Kirana menyaksikan dengan takjub saat pria itu mulai melakukan sesuatu yang jelas direncanakan dengan saksama.

Dia mengumpulkan batu-batu pipih dari tepi danau dan mulai menumpuknya di atas lumpur basah.

Bukan tumpukan asal. Ia menyusun setiap batu dengan sangat presisi. Batu-batu besar diseimbangkan di atas kerikil-kerikil kecil, menara itu tumbuh setinggi pinggang dan tampak menantang gravitasi.

"Satu getaran saja," jelasnya. "Bahkan embusan napas, dan ini akan rubuh."

Dia mundur perlahan, menyisakan jejak kaki yang jelas di lumpur di samping menara batu itu.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah mangkuk logam kecil, menaruh sepotong arang binchōtan di dalamnya, lalu menyulutnya. Binchōtan, arang yang bara hidupnya jauh lebih lama dari arang biasa, perlahan menyala dengan merah yang lembut.

"Aku akan menjelajahi terowongan di sebelah sana. Aku akan kembali dalam dua jam." Dia lalu berjalan menjauh, meninggalkan ruangan itu.

Rekaman berlanjut. Aruna menjelajahi terowongan yang ternyata buntu di beberapa titik. Dia berjalan sambil mengarahkan kamera ke dinding dan langit-langit, seolah mencari pola yang tidak terlihat oleh orang biasa. Gambar sesekali tersendat karena data yang sudah rusak, membuat gerakannya tampak patah.

Di suatu titik, Kirana melihat sekilas sebuah papan kayu kecil yang dipasang di dinding batu, miring, seolah diposisikan untuk menunjukkan arah.

"Sepertinya Aruna tidak sadar," gumam Kirana. Papan itu hanya muncul sepersekian detik.

Kemudian pria itu berhenti sejenak.

"Oke, itu papan yang ketiga," katanya santai, seolah sudah menghitungnya sejak awal.

“Ketiga?" teriak Kirana kaget.

Dia memundurkan video, kali ini memutar dengan kecepatan pelan. Setelah beberapa percobaan, dia berhasil menemukan dua papan lain yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Papan pertama setengah tertutup akar, papan kedua nyaris tertelan lumut.

"Ketiga itu mengarah pada satu titik yang bersimpang," gumamnya, mulai menyusun peta di kepalanya.

Rekaman kemudian menunjukkan Aruna kembali ke ruangan "Oasis". Kali ini gerakannya lebih hati-hati.

Tumpukan batu itu.. masih berdiri tegak. Dengan bara yang masih menyala.

Tapi di rekaman, Aruna tidak terlihat kecewa. Dia tertawa pelan. Tawa yang kering dan jauh lebih menakutkan daripada suara langkah kaki di lorong.

"Kau... kau pintar," bisiknya. "Kau sangat pintar."

Kirana tidak mengerti. "Apa maksudnya?"

Pria itu berjalan beberapa langkah menuju perangkap tumpukan batu. Senter kepalanya menyapu lumpur di sekitarnya.

Menara itu masih berbentuk persis seperti ketika ia tinggalkan.

"Jadi tidak ada apa-apa?" tanya Kirana pada dirinya sendiri. "Dia salah?"

Aruna mengarahkan kamera ke bawah, ke permukaan lumpur di sekitar tumpukan batu itu.

Jejak kakinya. Hilang.

Darah Kirana terasa mendingin. Lumpurnya rata. Rata dan kering, seperti baru saja disisir oleh sesuatu yang halus dan sabar.

Kirana baru sadar, Aruna tidak hanya menyiapkan 2 perangkap, tapi tiga perangkap. Sebuah jejak kaki pada lumpur yang tidak Aruna sebut. Jejak kaki itu akan menghilang ketika tumpukkan batu itu jatuh. Entitas itu pasti telah menyusun ulang tumpukan batu tersebut.

"Entitas itu tahu," gumam Kirana, potongan-potongan peristiwa mulai menyatu di kepalanya.

Kemudian Aruna diam sejenak. “Aku tidak takut, semua hal ini sangat menarik”. Aruna berbisik.

“…”

"oke. mungkin aku sedikit takut.”

Rekaman tiba-tiba tersendat parah. Gambar patah. Static memenuhi layar, menutupi suara.

Saat gambar kembali, tampilan pada sudut layar rekaman berubah, seperti ketika perangkat dinyalakan ulang.

Kemudian terlihat sekejap ada teks kecil di pojok kanan atas video.

USER: RAKA

Kirana membeku.

"Raka," bisiknya. "Siapa Raka?"

Dia membandingkan timestamp file itu dengan rekaman pertama. Data mentah menunjukkan bahwa file ini dibuat satu tahun penuh sebelum rekaman pertama Aruna.

Dia terdiam cukup lama.

"Tidak mungkin... ini rekaman Aruna," gumamnya pelan. "Ini... ini rekaman asli yang ditemukan Aruna di laptop itu. Yang kutonton barusan bukan Aruna. Itu Raka."

Sekarang segalanya mulai bergeser di kepalanya. Kebingungannya tentang kotak amunisi mendadak terasa bodoh. Dia mengira Raka adalah Aruna di "video selanjutnya". Dia tidak sadar bahwa dari tadi dia sedang menonton rekaman masa lalu.

Aruna menemukan rekaman Raka. Aruna menontonnya.

Sama persis seperti yang Kirana lakukan sekarang.

Kirana membuka database kepolisian di layar lain dan melakukan pencarian cepat.

Dia mencoba menemukan nama "Raka" yang cocok dengan profil. Tidak ada yang relevan. Tidak ada catatan orang hilang yang cocok. Tidak ada laporan resmi.

"Seolah-olah dia tidak pernah ada," gumamnya.

Rekaman kembali bergerak. Raka berjalan menyusuri terowongan lain yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Raka masih terdengar tenang. Nada bicaranya seperti orang yang terbiasa masuk ke tempat aneh. Sesekali ia menjelaskan formasi batu atau mencatat detail kecil di dinding.

Dia tiba di sebuah persimpangan lagi. Tanpa ragu, Raka berbelok kiri.

Gambar berganti perlahan.

Kilatan cahaya dari senternya sempat menangkap lengkungan batu yang runtuh, bekas pilar tua, serta potongan kayu patah yang tersebar seperti sisa bangunan yang pernah terbakar. Ada jejak aktivitas manusia atau makhluk hidup lainnya di sini, tapi terlalu tua untuk dijelaskan. Raka melangkah perlahan, memastikan tempat itu benar-benar sebuah ruang baru dan bukan ilusi optik dari lorong-lorong sebelumnya.

Ia keluar ke sebuah ruang yang sama sekali berbeda. Ruang itu begitu luas, terbentang seperti sebuah kota bawah tanah.

Banyak rumah-rumah.

Bergaya Eropa kuno, dengan atap tinggi dan jendela sempit, namun semuanya reyot dan seperti ditinggalkan puluhan tahun. Tidak ada suara. Tidak ada hembusan angin. Tidak ada gerakan.

Desa itu lebih besar dari yang terlihat pada pandangan pertama. Jalan-jalan batu kecil bercabang ke berbagai arah, membuat pola yang rumit. Rumah-rumah berdiri rapat, dua lantai, dengan dinding kayu dan batu yang catnya sudah mengelupas. Jendela-jendela sempit itu gelap, seperti mata yang tertutup.

Di beberapa tempat, ada sumur kecil yang ditutup papan kayu rapuh. Kain-kain usang menggantung di tali jemuran yang terputus, bergoyang sedikit meski tidak ada angin. Debu menutupi permukaan jalan dan ambang pintu, begitu tebal sampai meredam suara langkah. Desa itu terlihat seperti tempat yang menunggu sesuatu.

Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang aneh.

"Semuanya... kuning," bisik Raka.

Kirana baru menyadarinya setelah Raka menyebutkannya.

Setiap rumah memiliki aksen kuning di suatu tempat. Kain kuning compang-camping menggantung di jendela. Cat kuning terkelupas di pintu. Di jalan setapak, boneka kain kuning yang sudah rusak tergeletak di debu, menatap kosong ke langit-langit batu.

Raka berjalan ke alun-alun desa. Dan di tengahnya, berdiri sebuah patung.

Jantung Kirana seolah mengecil.

Patung itu patung malaikat.

Tapi ada yang sangat salah.

Patung itu diukir dari batu pucat yang mirip dengan batang pohon bercahaya di ruangan sebelumnya. Malaikat itu seharusnya menatap ke langit, namun lehernya tampak patah dan terkulai ke samping, seolah baru saja digantung paksa.

Kepalanya yang miring membuatnya seolah menatap langsung ke Raka.

Wajahnya hampir seluruhnya terkikis oleh waktu, menyisakan hanya dua lubang mata yang dibor secara asimetris. Efeknya membuat patung itu tampak seperti sedang mengedipkan satu mata dengan cara yang mengerikan.

Satu tangan memegang buku tebal yang menempel di dada. Tangan lainnya terulur, telapak menghadap ke atas. Seolah meminta sedekah. Atau menagih sesuatu yang belum dibayar?

"Tempat apa ini?" bisik Raka. Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar ketakutan. Ketakutan yang tidak bisa dicandai.

Rekaman berlanjut. Raka mulai menjelajahi desa itu dengan pola yang terstruktur. Setiap belokan yang pria itu buat, ditandai dengan meninggalkan barang bawaannya secara acak.

Kirana memperhatikan saat Raka memeriksa setiap rumah satu per satu. Pintu-pintunya berat dan berdebu. Di dalamnya, meja terbalik, kursi patah, pecahan kaca di lantai, dan debu tebal menutupi semuanya seperti selimut.

Tidak ada tanda kehidupan.

Kirana mempercepat rekaman. Satu jam. Dua jam. Waktu berlalu dengan cepat.

Raka berputar-putar.

Meski mulai lelah, Raka masih terus bicara pelan pada dirinya sendiri. Ia menyebut satu persatu belokan yang sudah ia coba, menghitung ulang jalur mana yang belum ia lewati. Ia terdengar yakin bahwa jika ia cukup teliti, pasti ada satu jalan yang benar. Di telinganya, ini masih soal kombinasi rute yang tepat, bukan soal mustahil atau tidak mungkin.

Dari cara ia menandai belokan, mengulang jalur, dan menguji kemungkinan seolah-olah sedang menyusun persamaan, Kirana bisa melihat jelas, Raka bukan sekadar nekat, dia jenius.

Setiap kali dia mencoba menjauh dari alun-alun, jalan yang ia pilih selalu berakhir kembali ke patung malaikat itu.

Dia mencoba jalan sempit di antara dua rumah. Kembali ke patung.

Dia mencoba menuruni jalan berbatu menuju sesuatu yang tampak seperti pasar. Kembali ke patung.

"Ini labirin. Labirin yang menyerupai desa," kata Raka akhirnya, napasnya terdengar berat. "Bentuknya tidak masuk akal. Semua jalan mengarah kembali ke sini."

Dia berdiri di depan patung, terengah-engah. Kamera bergetar sedikit ketika ia mengatur posisi.

Kirana bisa merasakan keputusasaan mulai menyelimuti dirinya.

Raka ingin keluar dari area ini secepatnya. Wilayah ini terasa tidak nyaman baginya. Ada tekanan yang membuat nya gelisah.

Dia menatap patung itu lagi, kali ini lebih lama.

"Tunggu," katanya lirih.

Dia berjalan mengitari patung itu perlahan, memperhatikan posisi setiap detail.

"Aku salah," bisiknya.

Kamera fokus pada tangan patung yang terulur.

"Itu tidak meminta," katanya pelan. "Itu menunjuk."

Kirana melihatnya sekarang.

Jari-jari patung itu tidak mengarah ke Raka, tidak juga ke kumpulan rumah di sekeliling alun-alun.

Jari-jari itu menunjuk melewati Raka.

Ke sesuatu yang jauh di belakangnya.

Raka berbalik. Kamera mengikuti gerakan kepalanya.

Di seberang jurang yang dalam dan gelap, di sisi lain desa, berdiri sebuah bangunan kecil sendirian.

Sebuah kapel tua, nyaris tidak terlihat dari alun-alun jika tidak diperhatikan dengan seksama.

Kapel itu berdiri sendirian di seberang jurang, ukurannya tidak terlalu besar, mungkin hanya cukup untuk beberapa puluh orang. Dinding luarnya terbuat dari batu kusam yang dipenuhi retakan panjang. Atapnya menjulang runcing, beberapa bagian kayunya sudah lapuk. Di sisi samping, ada jendela kaca yang sebagian kacanya pecah, menyisakan bentuk yang tidak lagi jelas.

Di dalamnya, suasananya lebih berat daripada di desa. Bangku-bangku kayu tersusun dua baris, banyak yang miring atau retak. Lantainya dipenuhi debu dan serpihan kayu. Altar batu di depan ruangan tampak kokoh dan dingin, seperti pusat dari segala sesuatu yang pernah terjadi di tempat itu.

Raka tidak langsung berjalan ke arah kapel. Ia berdiri di alun-alun cukup lama, memutar tubuhnya perlahan sambil menatap setiap rumah yang mengelilinginya. Ia memperhatikan detil kecil seperti pintu yang sedikit bergeser, jendela yang kini terbuka, atau kain kuning yang tampak berubah posisi. Desa itu terasa hidup, namun tidak menunjukkan tanda gerakan. Kirana menangkap ketegangan itu, sesuatu yang tidak terlihat tapi aktif mengatur ulang ruang ini seiring Raka berpindah tempat.

Kemudian Raka mulai berlari menuju satu-satunya jembatan tali reyot yang menghubungkan desa itu dengan kapel tersebut.

Rekaman berlanjut. Raka menyeberangi jembatan yang bergoyang keras setiap kali dia melangkah. Suara tali mengerang terdengar jelas di mikrofon.

Raka akhirnya tiba di depan kapel. Ia meraih gagang pintu dan perlahan mendorongnya. Saat celah pertama terbuka, terdengar suara berderak keras dari dalam, panjang dan menggetarkan, seperti sesuatu yang tidak seharusnya bergerak.

Bagian dalamnya sama kosong dan tuanya dengan desa di sekelilingnya. Bangku-bangku kayu lapuk berbaris dalam dua sisi. Di depan, sebuah altar batu berdiri sendiri.

Raka berjalan mendekati altar. Di bagian depannya, terukir sebuah simbol.

Mata dalam segitiga, dikelilingi bentuk-bentuk yang tampak seperti tentakel yang menyebar ke segala arah.

Di bawah altar, dia melihat sebuah benda lain.

Sebuah buku yang lebih besar, bersampul kulit hitam.

Kirana menjeda rekaman dan memperbesar gambar ketika Raka membuka buku itu. Halaman-halamannya dipenuhi tulisan tangan yang panik, miring, dan saling bertumpuk.

Itu adalah jurnal kedua. Dari gaya tulisannya, seolah milik seorang pemimpin agama atau pemimpin desa yang sudah lama kehilangan kepercayaannya sendiri.

Beberapa kalimat tampak bisa dibaca.

"Orang-orang bodoh ini berpikir pengabdian akan menyelamatkan mereka. Mereka yakin jika mereka membangun kota ini untuk-NYA, DIA akan memberi mereka pencerahan. Mereka salah."

"Patung itu menipu. Jangan lihat matanya. Peringatan terakhir."

"Raja akan datang."

“…”

"Raja itu. Dia sudah ada di sini. Dia mengawasiku menulis ini."

"Dia tidak menginginkan pengabdian. Dia menginginkan perhatian. Dia bosan. Dia membangun labirin itu untuk hiburan"

"Setiap pilihan sudah ditentukan. Setiap arah dari langkahku telah direncanakan untuk menuju takhta-Nya."

Kirana merasa mual. Kata-kata itu seperti menyalin perasaan yang dari tadi berkumpul di belakang kepalanya.

"Setiap belokan kiri..." gumam Kirana.

Dia menghitung cepat di kepalanya. Enam belokan kiri di gua, dua di desa.

Total delapan.

Di layar, Raka menutup buku itu dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat.

Untuk pertama kalinya sejak awal rekaman, Raka tidak berkata apa pun selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Ia hanya berdiri mematung di depan altar, seolah tubuhnya menolak menerima kalimat yang baru saja ia baca. Ia menatap lantai, lalu menatap lagi ke arah pintu masuk kapel, seperti sedang menghitung ulang setiap langkah yang sudah ia ambil. Di wajahnya, rasa penasaran perlahan bergeser menjadi sesuatu yang lebih berat. Bukan lagi sekadar takut, tetapi mulai curiga bahwa sejak awal, semua salah.

Kemudian ia duduk di salah satu bangku kapel yang hampir roboh. Napasnya berat, bukan hanya karena lelah tetapi juga karena pikiran yang mulai menumpuk. Ia menatap ke langit-langit kapel, seolah mencari pola yang lain, sesuatu yang ia lewatkan. Kirana bisa melihat pria itu menghubungkan semua potongan informasi dengan caranya sendiri.

Butuh waktu cukup lama sebelum Raka akhirnya bangkit dari duduknya.

Kemudian ia melihat ke belakang altar dan menemukan satu pintu lagi. Pintu kayu sederhana yang mengarah ke bawah, ke dalam tanah.

Dia membukanya.

Raka menuruni tangga batu ke dalam kegelapan total.

Raka berjalan perlahan. Ia tidak lagi mendengar langkah yang mengikutinya. Di balik layar, Kirana merasakan sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan halus yang tidak ada di menit-menit sebelumnya, seakan suasana dalam rekaman itu sendiri ikut mengerut.

Raka menemukan satu persimpangan lagi. Raka belok kiri.

Dia berjalan menyusuri lorong yang sempit dan sangat gelap. Beberapa saat kemudian dia melihatnya.

"Apa itu?.." bisik Raka.

Di ujung lorong, berdiri sebuah gerbang.

Gerbang itu tidak terbuat dari batu ataupun logam. Ia berdiri sendirian di tengah kegelapan yang begitu pekat hingga dinding-dinding gua nyaris lenyap, seolah ditelan ruang hampa. Dari celah kecil di langit-langit goa, seberkas cahaya jatuh tepat ke arahnya, seperti sorotan panggung yang hanya memilih satu objek. Cahaya itu memantul pada permukaan gerbang yang putih dan keemasan, membuatnya berkilau tidak wajar, hampir seperti benda suci yang tersesat di tempat yang salah.

Bingkai gerbang dipenuhi ukiran yang tampak bergerak pelan dalam cahaya tersebut, bergelombang seperti napas makhluk yang menunggu dalam diam. Kilau lembut di permukaannya membuat mata Kirana perih hanya dari menatap rekamannya, seolah gerbang itu balik menatap dirinya.

Di tengah gelap yang tidak berujung, gerbang itu bersinar sendiri. Tenang. Indah. Dan mengundang dengan cara yang membuat bulu kuduk Kirana meremang.

Raka mendekat, langkahnya melambat.

Suara satu-satunya yang terdengar hanyalah detak jantungnya sendiri.

Dia mengintip ke dalam gerbang bercahaya itu.

Layar Kirana mendadak menjadi hitam pekat.

"Tidak," teriak Kirana pada layar. "Apa yang dia lihat?"

Dia memajukan file, mencari satu frame saja yang selamat. Tidak ada. Hanya hitam pekat selama tiga puluh detik penuh.

Lalu gambar kembali.

Kamera berguncang hebat. Raka sedang berlari. Napasnya tersengal dan bercampur isak.

Dia tidak lagi analitis.

Dia panik.

"Dia berbohong! Dia berbohong!" teriak Raka, suaranya pecah.

Kirana tidak tahu siapa yang dia maksud. Raja. Pendeta. Patung. Atau sesuatu yang lain.

Raka berlari kembali. Dia tiba di persimpangan gua. Persimpangan tempat dia terakhir kali belok kiri setelah melewati desa kuning.

"Tidak lagi," teriak Raka. Dia berlari ke arah kanan dari persimpangan itu, memilih jalan yang berbeda dari sebelumnya, seolah yakin bahwa ini adalah satu-satunya cara keluar.

Kirana memperhatikan saat dia berlari menyusuri terowongan itu.

Lalu Raka tersandung dan jatuh.

Kamera terpental. Gambar berputar.

Ketika dia mengangkat kamera, dia tidak lagi berada di terowongan yang dalam.

Dia kembali di hutan pertama. Tepat didepan gua.

Di depannya, di atas batu datar, tergeletak kotak amunisi tua.

Kosong.

Raka menatap kotak itu lama sekali. Tangisnya mereda. Lalu dia tertawa.

Tawa yang hampa dan patah.

"Tidak ada jalan keluar," bisiknya.

"Tidak ada jalan kanan. Semuanya mengarah kembali."

Kirana menyaksikan dalam kengerian yang tak bersuara saat Raka membuka ranselnya.

Dia mengeluarkan sebuah jurnal kosong.

Kirana menggigit bibirnya.

Raka membuka sampul jurnal itu dengan tangan gemetar. Ia mengambil sebuah pena dari saku jaketnya, membukanya pelan, lalu menempelkan ujungnya ke halaman pertama yang masih bersih.

Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Bahunya naik turun, napasnya masih terputus-putus.

Lalu ia mulai menulis.

Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri.

Tulisan tangannya tergesa-gesa, miring, dan terlalu dalam, tinta sedikit menembus ke belakang halaman. Ia berhenti sejenak, bahunya bergetar.

Jangan tertipu, dia selalu mendengarkan.

Kau tidak bisa mengelabuinya.

Dia mendengarku,

Dia mengawasiku.

Lalu, dengan tenaga putus asa, ia menunduk lagi. Ujung pena kembali menyentuh kertas. Ia menulis baris yang sama berulang-ulang.

Apa pun yang kau lakukan, di persimpangan, jangan belok kiri.

Sembilan kali.

"Sembilan kali," bisik Kirana, air matanya menggenang tanpa ia sadari. Ia teringat hitungan yang barusan ia lakukan. Sembilan belokan kiri. "Satu peringatan untuk setiap kesalahan."

Raka menyelesaikan catatan itu. Ia mengangkat pena pelan, menatap halaman yang kini penuh kata-kata panik. Ia meniupnya sekali, sekadar memastikan tintanya kering, lalu menutup jurnal itu dengan hati-hati.

Dia menaruh jurnal tersebut ke dalam kotak amunisi, menutup kotaknya, lalu mendorongnya kembali ke posisi semula di atas batu.

Dia bukan menemukan jejak.

Dia menciptakan jejak itu.

Dari cara ia menghela napas, Kirana bisa merasakan bahwa bagi Raka, perjalanan ini tidak lagi tentang menjelajah. Ia sudah menerima bahwa ia sendiri tidak akan pernah benar-benar keluar dari tempat itu.

Rekaman berlanjut.

Raka duduk di dinding gua, terisak pelan. Dia tahu dia terjebak. Dia tahu suatu hari nanti, seseorang akan menemukan catatan yang baru saja ia tinggalkan.

Dan siklusnya akan berulang.

Dia menghapus air mata dengan kasar. Masih ada satu hal lagi yang bisa ia lakukan.

Dia harus meninggalkan pesan terakhir.

Pesan yang tidak terpaku pada gua.

Pesan yang bisa melompat melewati waktu.

Pesan untuk keluar dari siklus.

Dia menoleh ke kamera. Baterainya hampir habis, indikator berkedip merah.

Dia membuka log teks mentah di perangkatnya. Dia tahu log ini akan menjadi bagian dari cache hard drive. Bagian yang mungkin paling bertahan jika semuanya rusak.

Dia mulai mengetik serangkaian huruf tanpa spasi, disandikan dengan sebuah kunci.

Kirana, beralih lagi ke file JURNAL_01.jpg. Dia menggulir ke bagian bawah entri pertama.

Di sana ia kembali memperhatikan. Serangkaian huruf yang sebelumnya ia abaikan.

Tangannya gemetar ketika ia membuka program dekripsinya, alat yang selalu ia gunakan untuk mencari pola dan memecah makna dari rangkaian huruf acak di bagian bawah gambar itu.

"Kalau ini benar-benar sandi… kuncinya pasti sesuatu yang penting buat mereka," gumamnya pelan.

Pikirannya langsung melompat ke jurnal kedua.

Ia mengingat lagi kalimat-kalimat yang terbaca di sana.

Raja akan datang.

Raja itu. Dia sudah ada di sini.

Setiap langkah menuju takhta-Nya.

"Raja..." Kirana mengetikkan RAJA di kolom kunci dan menekan enter.

Hasilnya hanya deretan huruf acak yang tidak bermakna.

Ia mengerutkan kening.

Dia mencoba lagi.

LABIRIN. Enter.

Tetap kacau.

MALAIKAT. Enter.

Masih tidak masuk akal.

Kirana bersandar sejenak, menatap kosong ke layar. Matanya kembali mengingat detail lain, cara Aruna berbicara di videonya.

Log audio.

Episode berikutnya.

Dan di jurnal kedua, kata itu berulang terus: Raja.

"Kalau Aruna atau orang sebelum dia berpikirnya pakai bahasa Inggris..." bisiknya.

Raja.

King.

Tangan Kirana bergerak pelan, seperti ragu pada kesimpulannya sendiri. Ia menghapus kunci sebelumnya, lalu mengetikkan satu kata baru di kolom key:

KING

Jari-jarinya sempat berhenti tepat di atas tombol enter.

Napasnya terasa berat.

Lalu ia menekannya.

Untuk beberapa detik, layar hanya menampilkan kedipan kursor. Sunyi. Terlalu sunyi.

Dia memasukkan deretan karakter sandi itu dengan tangan gemetar, memastikan tidak ada satu huruf pun yang salah. Program bekerja dalam diam.

Lalu huruf-huruf itu mulai muncul. Perlahan. Tersendat.

Seolah ditarik paksa dari tempat yang tidak seharusnya.

lariarunalariarunalariarunalariarunalariarunalariarunalariarunalariarunalariaruna

Garis teks itu terus merayap turun, seperti bisikan panik yang memaksa dirinya untuk terdengar.

Kemudian, tepat di tengah layar, muncul satu baris yang lebih jernih.

Seolah programnya sendiri ikut menarik napas sebelum menuliskannya.

LARI, ARUNA.

Napas Kirana berhenti.

Dadanya terasa mengerut, seakan sebuah tangan dingin meraih jantungnya dan menahannya di tempat.

Ruangan di sekelilingnya lenyap; yang tersisa hanya layar itu dan huruf-huruf yang berdiri terlalu jelas.

Ia menatap kalimat itu tanpa bergerak.

Pesan itu bukan sekadar peringatan.

Itu adalah teriakan seseorang yang sudah kehabisan waktu.

"Dia... dia mencoba memperingatkan Aruna," bisiknya. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. "Pesan ini untuk Aruna. Tapi bagaimana Raka tahu tentang Aruna?.."

Dia teringat pada rekaman pertama. Dia ingat kegembiraan di suara Aruna.

"Ini menarik... kita lanjut di video selanjutnya ya."

Aruna telah hilang selama enam bulan. Dia tidak pernah lari. Dia masuk.

Rekaman video Raka selesai.

Kantor Kirana terasa terlalu besar dan terlalu sunyi.

Dengungan server yang tadi nyaris tidak terdengar kini memenuhi ruangan seperti gelombang halus yang merayap naik ke dinding.

Lampu penerangan dari luar jendela berkedip. Cahaya itu muncul dan padam secara perlahan, menyinari wajah Kirana dengan kilau redup yang membuatnya tampak semakin pucat.

"Dia tahu nama Aruna," bisiknya.

Kata-kata itu terasa semakin tidak masuk akal setiap kali ia ulangi.

File itu dibuat satu tahun yang lalu. Aruna menghilang enam bulan setelahnya. Dan Kirana baru membuka rekaman itu hari ini.

Tangannya terulur menuju kabel hard drive. Getarannya begitu kuat hingga ia harus menstabilkan pergelangan tangannya.

Ia hanya ingin menghentikan semua ini.

Matikan perangkat.

Putuskan hubungan.

Tutup kasusnya.

Namun jarinya belum sempat menyentuh kabel itu ketika layar laptop berkedip pelan, lalu padam.

Kirana membeku.

Ia menatap pantulannya sendiri pada layar hitam mengkilap itu. Mata yang membesar. Napas yang tercekat. Bahu yang kaku menahan ketakutan.

Kemudian layar menyala kembali.

Bukan tampilan sistem. Hanya terminal sederhana, latar hitam dengan teks hijau lembut.

Kursor berkedip perlahan. Seolah menunggu.

Lalu satu kalimat muncul.

Tidak terburu-buru.

Tidak mengancam.

Hanya hadir.

Jejak selalu kembali pada yang menemukannya.

Kirana menatap kalimat itu lama.

Tidak ada baris kedua. Tidak ada pesan tambahan.

Hanya satu kalimat. Pendek. Tenang.

Seakan terlalu yakin bahwa ia tidak membutuhkan penjelasan apa pun.

Terminal tertutup dengan sendirinya. Layar kembali gelap.

Kirana menarik napas perlahan.

Ia berdiri dari kursinya, merapikan rambutnya tanpa sadar, lalu seperti menatap ruangan kerja itu untuk terakhir kalinya malam itu.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Ia tidak tahu bagaimana semua potongan itu terhubung. Atau apakah semuanya memang harus bisa dijelaskan.

Namun ia tahu satu hal:

Beberapa jejak tidak dibuat untuk dilupakan.

Ia mematikan lampu kantor, menutup pintu, dan berjalan pergi.

Kalimat itu mengikuti langkahnya dalam keheningan.

“Jejak selalu kembali pada yang menemukannya.”

The End

“This story is inspired by The King in Yellow.”