Sebuah Janji di Bawah Bintang
A Short Story by Darrien Rafael Wijaya - Written at August, 2023
Dear Diary,
Hari ini menjadi hari yang luar biasa mengejutkan bagiku... Oh ya dia pernah memberikan sebuah pesan padaku. "Setiap hal yang datang padamu, dapat juga pergi darimu. Maka sebab itu, jangan terlalu terikat pada apa yang kamu dapat, jangan terlalu terbeban dengan apa yang kamu lepas".
Pesan itu masih terngiang dalam pikiranku saat aku duduk termenung di kamarku, memegang pena di tangan dan memandangi halaman kosong di depanku. Pikiranku melayang ke masa lalu, ke kenangan-kenangan manis yang aku bagikan bersamanya.
Kami bertemu saat kami berada di kelas 3 SMA. Awalnya, aku merasa tidak nyaman ditempatkan dalam satu kelompok dengannya. Bagaimana tidak? dia terlihat pendiam, sombong, dan sering kali mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas dan menyebalkan. Oh btw, namanya Herman.
Pertemuan kami bermula dari sebuah kerja kelompok di sekolah. Kami ditugaskan untuk menyelesaikan sebuah proyek besar dalam waktu sebulan. Saat itu, kami tidak saling mengenal dengan baik. Kami hanyalah sekumpulan siswa yang dipertemukan oleh keadaan. Awalnya, interaksi kami terbatas pada pembagian tugas dan diskusi terkait proyek tersebut.
Namun, hari demi hari berlalu, kami mulai merasa lebih nyaman satu sama lain. Kami terus bekerja bersama, berdiskusi, dan bertukar pikiran. Dalam perjalanan mengerjakan proyek tersebut, kami menghabiskan banyak waktu bersama, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Kami belajar tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing, serta bagaimana kami bisa saling melengkapi dalam mencapai tujuan bersama.
Tak hanya berbicara tentang proyek, kami juga membagi cerita-cerita pribadi dan impian kami. Kami saling mendengarkan dan memberi dukungan satu sama lain. Dari pembicaraanpembicaraan ringan tentang film dan musik favorit, hingga percakapan yang lebih mendalam tentang cita-cita dan harapan masa depan, kami semakin memahami satu sama lain. Kami menemukan banyak kesamaan dan perbedaan di antara kami, yang membuat hubungan kami semakin kuat.
Setelah proyek itu selesai, hubungan kami tetap erat dan bahkan semakin mendalam. Hampir setiap hari, kami makan malam bersama dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Kami mengeksplorasi kota bersama, pergi ke air mancur, dan menikmati momen kecil yang berharga.
Kamu ingat Herman? Saat itu kita duduk dipinggiran kolam ikan di dalam rumah makan di pusat kota, hanya berdua. Membincangkan hal-hal yang tidak penting. Aku ingat waktu itu kita membahas tentang bagaimana dinosaurus tidur, apakah mereka berdiri atau tidak. Atau apakah lebih banyak bintang di langit dibandingkan pohon dibumi?. Walaupun hal-hal itu tidak jelas, namun waktu yang kulalui bersamanya tetap terasa cepat dan menyenangkan.
Aku mulai melihat sisi-sisi lain dari Herman yang tidak banyak orang ketahui. Dia adalah teman sejati yang tak tergantikan.
Namun, di satu waktu sebelum kami lulus SMA, perasaan cinta tumbuh di dalam hatiku. Aku mencoba mengungkapkannya dengan cara yang paling sederhana, yaitu dengan menembak Herman. Namun, jawabannya membuatku terdiam dan merasa sedih. Dia menolak secara lembut dan dengan bijaksana menjelaskan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk memulai hubungan romantis.
Herman menjelaskan bahwa pacaran di masa SMA hanyalah seperti permainan dan cinta monyet. Dia ingin kita merasakan manis dan pahitnya hidup, menjalani pengalaman yang membentuk kita sebelum terlibat dalam hubungan yang serius. Aku menanyakan apakah dia tidak mau bersamaku, dan dia dengan tulus mengakui perasaannya padaku.
"Bukannya aku menolak kamu. Begini saja. 10 tahun dari sekarang. Kita berjumpa kembali di tempat ini pada tanggal yang sama, waktu yang sama. Jika kamu masih belum menikah pada saat itu, aku akan menikahi mu saat itu juga, tapi jika kamu telah menikah, kamu ceritakan segala manis pahit kehidupan yang kamu rasain selama 10 tahun itu.", Itulah kata-kata yang diucapkan Herman pada saat itu. Dibawah kilauan bintang, aku menanamkan janji itu jauh dalam diriku dan menyetujuinya.
Kisahku berlanjut setelah aku pergi ke luar negeri untuk mengejar impianku menjadi seorang dokter hebat. Berberapa tahun kemudian, aku bertemu dengan Daniel, dan kami menikah. Meskipun aku mencintai Daniel, tetapi bayangan Herman masih mengikutiku. Aku sering kali teringat janji yang kami buat, dan rasa penasaran tentang apa yang akan terjadi jika aku tetap menunggu Herman.
Aku memutuskan untuk berbagi semua cerita yang pernah terjadi antara Herman dan diriku kepada suamiku, Daniel. Daniel adalah seorang suami yang baik hati dan pengertian. Dia selalu ada di sisiku, menghiburku saat aku merasa sedih, dan mendukungku dalam segala hal. Ketika aku bercerita tentang Herman, dia mendengarkan dengan penuh perhatian dan mengerti bahwa Herman adalah bagian penting dari masa laluku.
Aku merasa beruntung karena Daniel tidak merasa cemburu atau terancam dengan kehadiran Herman dalam hidupku. Sebaliknya, dia memahami betapa pentingnya hubungan tersebut bagi diriku. Dia memahami bahwa ada janji yang perlu ditepati, dan dia memberiku izin untuk bertemu dengan Herman saat waktunya tiba.
Daniel tahu bahwa meskipun aku masih memiliki perasaan terhadap Herman, aku telah memilih untuk menjalani hidup bersamanya. Dia mengerti bahwa cinta kita berdua telah berkembang seiring waktu dan kami telah membangun hubungan yang kuat. Daniel melihat Herman sebagai bagian dari masa lalu yang tak terpisahkan dariku, dan dia menerima hal itu dengan lapang dada.
Beberapa waktu berlalu, hari ini merupakan hari yang kami janjikan. Iya, 10 tahun sudah aku lewati, ditengah hujan yang turun dengan deras, aku memutuskan untuk mengunjungi tempat yang pernah kami janjikan. Jam 6 sore, aku sampai di sana dan menunggu dengan harapan yang tidak terlalu tinggi. Waktu berlalu tanpa tanda-tanda kehadiran Herman. Aku mulai merasa kecewa dan mulai berpikir akan berbalik untuk pulang.
Namun, tiba-tiba, seorang pria datang dengan napas terengh-engah seperti habis dikejar singa dan pakaian basah kuyup seperti habis naik arung jeram. Dengan penuh kelelahan, dia pergi ke kasir dan bertanya tentangku. "Maaf mba, apakan mba melihat seorang perempuan, yang tingginya sekitar sepundak saya, dan wajahnya lumayan cantik. Namanya Clara". Tanpa mengenali wajahnya, aku mendekatinya dan bertanya dengan penuh harap, "Saya Clara, ada yang bisa saya bantu?"
Pria itu, dengan suara gemetar dan mata berkaca-kaca, secara perlahan dia memberitahuku bahwa Herman tidak bisa datang hari ini. Aku segera menanyakan alasannya, dan air mata mulai jatuh dari matanya. Pria itu terdiam sejenak. Aku tatap mulutnya. Mulutnya bergetar layaknya orang ketakutan. Tiba-tiba mulutnya mulai terbuka sambil secara perlahan dia berkata "Karena herman sudah tidak ada. Herman sudah kembali kepada sang pencipta". Aku terdiam.
Berberapa detik berlalu. Aku kemudian mulai menanyakan apa yang terjadi. Pria itu menceritakan tentang kecelakaan tragis yang menimpa Herman.
Seperti sebuah kisah tak terduga, saat itu langit sedang muram dan hujan turun dengan deras. Herman sedang dalam perjalanan pulang dari kantornya, meniti jalan yang biasa ia lewati setiap hari. Tanpa peringatan, sebuah truk besar muncul dari kegelapan dengan rem yang bermasalah.
Dalam sekejap, kehidupan Herman berubah menjadi petaka. Suara dentuman keras mengguncang sekitarnya saat truk itu menabrak mobilnya dengan kekuatan yang menghancurkan. Serpihan-serpihan kaca berserakan di sekitar, dan keheningan seketika menyelimuti tempat kejadian.
Seketika itu juga, pria yang bercerita tersebut muncul di tempat kejadian. Nafasnya terengahengah, penuh kekhawatiran, saat ia mendekati mobil yang sudah rusak parah itu.
Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Aku tidak bisa membayangkan rasa takut dan kepanikan yang mungkin dirasakan Herman pada saat itu. Yang ada dalam pikiranku saat itu hanyalah janji yang tidak akan pernah bisa ditepati. Aku merenungkan mengapa pada saat itu aku setuju dengan janji ini. Jika aku tidak menyetujuinya, mungkin saja aku masih bisa hidup bersama Herman saat ini.
Pria itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Samuel, sahabat dekat Herman di tempat kerja. Dia memberikan penjelasan tentang hubungan mereka. Samuel mengungkapkan bahwa setiap hari, Herman selalu bercerita padanya tentang diriku. Herman menggambarkan aku sebagai seorang perempuan yang cantik, kuat, dan tangguh dalam menghadapi masalah. Dia selalu menceritakan tentang keceriaanku dan semangatku yang terus menyala.
Herman juga tidak lupa untuk menceritakan tentang janji kami, dan itulah alasan Samuel datang mencariku. Samuel ingin memberikan kabar mengenai Herman.
Aku meminta Samuel untuk menceritakan lebih banyak tentang Herman, Samuel menceritakan tentang kebaikan dan ketulusan Herman yang sering diabaikan orang-orang di sekitamya. Dalam cerita Herman, aku menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah lama menggangguku. Herman adalah sosok yang tak tergantikan, seorang teman sejati yang meninggalkan jejak dalam hidupku.
Dear Diary,
Hujan turun dengan lembut pada malam ini, pikiranku terhanyut ke masa lalu. Aku merasakan rindu yang begitu kuat, memenuhi setiap sudut hatiku. Aku tak bisa lagi menutup mata terhadap kenangan kita, Herman. Meskipun aku mencoba melupakanmu, pesanmu masih terngiang dalam hatiku.
Herman, walaupun engkau telah tiada di sini, janji yang kau berikan padaku sepuluh tahun yang lalu masih terus menggema dalam hatiku. Aku tak bisa berhenti kagum dengan kedewasaanmu. Meski takdir memisahkan kita secara fisik, aku merasakan kehadiranmu melalui janji yang kau tinggalkan. Saat hujan turun dan hatiku dipenuhi rindu, aku tak bisa melupakan betapa bijaknya kata-kata yang kau ucapkan dulu.
Meskipun kisah kita telah berakhir, dan pasti takkan pernah terulang lagi, aku akan mengisi hidupku dengan kebahagiaan dan menciptakan cerita baru. Namun, di dalam hatiku, Herman, kau akan selalu memiliki tempat yang istimewa. Aku tidak akan pernah melupakan mu.
Sincere. Clara.